Halaman ini khusus untuk Tika ketika menjadi juri Miss Automotive STC 2007
Sunday, May 13, 2007
Djarum BLACK Samarinda Tuning Contest 2007 day 2
Memasuki hari kedua dan terakhir untuk di lokasi Gedung Wanita Mal Lembuswana. Malam hari ditutup dengan penyerahan hadiah dan dihadiri oleh Bpk. Drs. H. Ahmad Amin, walikota Samarinda.
Saturday, May 12, 2007
Djarum BLACK Samarinda Tuning Contest 2007
Hari pertama mulai pagi sampai malam... 12 Mei 2007, Gedung Wanita di Komplek Mal Lembuswana berubah menjadi ajang pamer mobil dan pesta.
Friday, May 11, 2007
Miss Automotive STC2007 - Technical Meeting
Dalam rangkaian acara Djarum BLACK Samarinda Tuning Contest 2007 with Telkomsel. Diadakan Technical Meeting untuk peserta Miss Automotive bertempat di Hotel MJ, Samarinda 11 Mei 2007
Wednesday, April 25, 2007
Catatan Perjalanan: Sepatu Melayang di Adam Air
Ya udah, jadwal jadi pilihan utama. Nah pesawat yang paling cocok jadwal ya Adam Air selain ada Batavia Air dan Sriwijaya Air yang terbang berkali-kali antara Jakarta-Pontianak. Lion Air cuma ada satu kali penerbangan.
Selasa subuh nyaris tidak tidur. Televisi dengan siaran FTV-nya masih hidup ketika kubangun jam 03wib. Wah sial, ketinggalan acara Midnight Hot. Tinggal Spring-Summer dan Photographer aja yang sempat melintas. Malamnya sih sempat lihat Lingerie aja. Setelah selesai mandi dan sarapan sisa udang giling yang dibeli di Hoka-hoka Bento di samping hotel Kartika Chandra. Aku hybernate laptop. Kemas semuanya ke tas tarik dan tas jinjing. Check out dari hotel sekitar jam 04:00wib. Pesawatku dijadwal jam 05:50wib.
Sesampainya di Cengkareng terminal A-3. Sopir taxi Blue Bird yang kutumpangi dengan sopan mengembalikan semua uang kembalian ribuan dan logam juga tiket tol 3 lembar yang terjatuh kemudian. Wah bagus betul sopir Blue Bird ini. Beda dengan sopir Silver Bird 3 minggu lalu yang kembaliannya tidak balik, dan biayanya lebih mahal lagi.
Sampai di meja boarding, petugas bilang "maaf pak, delay sekitar 2 jam karena masalah weather". Dia pakai bahasa Inggronesia (bahasa campuran Inggris dan Indonesia). Boarding pass berupa secarik kertas yang dicetak di thermal paper menyebutkan jam 07:20. Waduh lamanya...
Cafe-cafe di bandara pada jam 4 itu sudah banyak yang buka, tapi berhubung belum lapar ya langsung ke gate yang ditunjuk. Disitu baru sedikit penumpang yang masuk. Jatah Pop Mie dibagi ke semua penumpang. Makan Pop Mie pagi-pagi lumayanlah untuk mengganjal delay yang 2 jam itu. Sambil nunggu, baca-baca buku "Re-Code Your Change DNA"nya Rhenald Kasali yang kubeli kemarin di Gramedia, Plaza Semanggi. 15.000 lebih murah dibanding harga jual di seminarnya Rhenald yang kuikuti seminggu sebelumnya di Hotel Bahana Surya, Balikpapan. Gak dapat tanda tangan asli Rhenald sih... tapi tanda tanganku sendiri juga bagus kok :)
Hampir jam 8 ketika Adam Air dari Surabaya yang menggantikan pesawat ke Pontianak tiba. Kita semua penumpang mulai boarding. Saya termasuk penumpang yang awal boarding. Kursiku 1D, paling depan kanan. Mestinya di samping aisle, tapi aku duduk di dekat jendela. Penumpang baru sedikit yang masuk ketika ada ribut-ribut di kiriku. Wah ada penumpang berkelahi. Satu penumpang wanita tionghwa kecil melawan pria besar gemuk berkaos dalam bertulisan Marinir atau Marine kalau gak salah, bersalut jaket kulit. Waduh. Penumpang yang sudah masuk duluan mulai melerai. Sebagian menarik si cewek menjauh dan didudukkan ke kursi di baris 1 yang kududuki. Aku sendiri mulai ikutan menyabar-nyabarkan pria besar gemuk tadi. Pramugari dua orang ikut melerai. Penumpang yang belum masuk macet sampai dibawah tidak bisa naik. Perkelahian terjadi di baris 2 (si cewek) dan baris 3 (pria gemuk itu), tidak ada baris nomor 1 di kiri.
Dua pria dewasa, lebih tua dari saya masuk ke baris 3 menyuruh pria besar tadi duduk di sudut dekat jendela. Si cewek duduk di baris 1 kanan didorong oleh satu pramugari juga duduk di kursi jendela. Sementara perang kata-kata berisi kebun binatang keluar dari kedua mulut penumpang yang berkelahi tadi. Sepatu si cewek sempat melayang tadi sebelum dilerai. Saya pindah ke baris 2 di posisi si cewek kelahi tadi. Saya bilang ke pramugari, biar saya pindah kursi saya buat si cewek. Sekalian saya membantu dua pria tadi menyekat medan perkelahian.
Seorang wanita agak tua ikut pindah tempat duduk merapat ke cewek di baris 1 yang kelahi. Ikut menyekat. Beberapa security Adam Air masuk ke pesawat. Sementara penumpang yang tadi tertahan mulai bisa masuk lagi. Suasana masih panas, penumpang sudah masuk semua tapi perang mulut masih berlangsung. Bahkan si cewek mau melempar sepatu lagi. Walah. Dua pria penyekat di belakang saya mengingatkan kalau sepatu bisa mengenai dia bukan lawannya.
Pramugari dan security meminta si cewek untuk turun dan ikut pesawat berikutnya jam 12, karena kalau masih berkelahi pilot tidak mau terbang. Waduh. Sudah delay 2 jam lebih eh delay lagi gara-gara penumpang kelahi. Si cewek ngomel-ngomel dan masih marah. Sempat nangis kalau kepalanya sakit dipukul tadi.
Permasalahannya akhirnya saya tahu. Si cewek pegang boarding pass kursi nomor 2. Dikiranya kursi yang diduduki pria gemuk besar tadi adalah nomor 2, padahal baris 1 tidak ada dan langsung baris 2. Pangkal perkelahian karena si cewek emosi langsung mendamprat pria gemuk besar yang sudah benar duduk di baris 3.
Akhirnya disepakati oleh semua yang melerai, kedua penumpang yang berkelahi itu terbang bersama dengan sekatan penumpang-penumpang lain yang sukarela membantu. Saya duduk di baris 2 di kursi yang semestinya diduduki oleh cewek tadi. Sebelah kanan saya ada cewek mungil yang minta pindah ke dekat jendela. Dia masih kelas 2 SMA dan baru liburan di Jakarta karena sekolahnya dipakai ujian. Dia bilang masih ngantuk dan capek karena bangun jam 2 pagi karena mobil yang antar ke Cengkareng jam 3 pagi. Mungkin faktor kurang tidur ini juga yang membuat dua penumpang itu sampai pukul-pukulan, lempar sepatu dan perang mulut. Satu security berwajah Indonesia Timur dan berbadan tegap berpakaian batik ikut menyekat di baris 1.
Saya ke depan ke pramugari menyarankan memberi obat penenang semacam Antimo ke cewek yang masih mengomel itu. Pramugari tidak berani karena takut ada komplikasi. Tapi akhirnya Panadol pun diberikan, minyak angin juga dioleskan ke dahi cewek yang kelahi tadi. Dan suasanapun sudah mulai tenang. Pilot bersedia take off. Duh leganya.
Sesampainya mndarat di Pontianak, para penumpang penyekat dan security bersepakat dulu untuk segera menurunkan si cewek sementara mereka menahan pria gemuk besar tadi di kursi dekat jendela sampai semua aman. Saya ikut turun duluan.
Di terminal setelah dapat bagasi ketemu lagi dengan pria gemuk besar tadi dan penumpang penyekat. Kita semua bersalam-salaman dengan senyum manis, termasuk senyum manis dari pria gemuk besar yang sudah tidak emosi lagi seperti 2 jam sebelumnya.
Penjemputku bingung karena tadi sempat ku SMS kalau delay tambahan gara-gara penumpang kelahi. :)
Catatan Perjalanan: Internet Anywhere
Minggu (22/4) - Rabu (25/4)
Samarinda - Balikpapan - Jakarta -
Pontianak - Jakarta - Balikpapan - Samarinda.
Minggu pagi menyalakan laptop yang dilengkapi GC-79 dengan SIM Card XL yang saya pakai untuk akses internet.
Laptop langsung terhubung ke internet setelah semua software awal berjalan. Browser diaktifkan langsung mengakses homepage www.samarindacity.com sementara ada tanda tameng merah menarik perhatian di kanan bawah. Ternyata peringatan bahwa software penjaga virus yang saya pasang Norman Virus Control (NVC) mentrigger MS Win XP saya untuk mengingatkan bahwa software sudah out of date jadi harus download engine baru. Saya klik kanan NVC dan minta internet update. Setelah beberapa saat muncul informasi bahwa file engine yang harus di download 9mb lebih besarnya. Saya OK-kan.
Ternyata diperkirakan perlu waktu lebih dari 30 menit untuk download. Saya lanjutkan cek e-mail di samarinda.org, cbn.net.id dan gmail.com via webmail semua. Download 9mb ternyata tidak berhasil selesai sampai saya akan berangkat, tampkanya dengan kecepatan setara dial up memang tidak cukup hanya 30 menit. Dulu waktu dial up masih lapang, untuk mendownload 1mb perlu 5 menit. Tentunya sekarang perlu waktu lebih dari itu.
Sampai di Sepinggan, tidak perlu pusing-pusing cari WiFi HotSpot. Hidupkan laptop dari hybernate langsung sambung lagi ke internet. Coba download lagi NVC sambil cek e-mail, nge-friendster dan multiply.com
Gagal lagi update karena harus boarding.
Tapi saya masih punya keleluasaan akses internet dimana-mana dengan CBN Mobile Thru XL yang saya pakai.
Tidak kencang sih, tapi lumayan untuk cek e-mail via webmail.
(saran saya jangan download email karena pasti attach file yang gede-gede bakal nyangkut lama).
Sampai hotel di Jakarta, laptop saya hidupkan lagi dan sekalian re-charge battery.
NVC saya aktifkan proses downloadnya.
Saya tinggal keluar makan malam.
Mungkin lewat 1 jam lebih dan ketika kembali, tameng merah bersilang dari Microsoft sudah tidak muncul lagi. NVC saya cek ternyata engine sudah ganti baru. Total bytes terdownload yang saya lihat di jendela GC-79 sudah lewat lebih dari 10mbps.
Di Jakarta ternyata aksesnya lebih kencang dibanding di Balikpapan. Sementara di Sepinggan tadi saya rasakan akses juga sedikit lebih cepat dibanding di Samarinda.
Meski masih kecepatan dial up, tapi saya sudah berani buka-buka foto friendster.com dan www.ayofoto.com
Memang mesti ada kesabaran sedikit karena bukan kecepatan broadband internet.
Sampai pagi laptop tidak saya matikan ternyata koneksi tidak putus sama sekali. Saya bisa lanjutkan cek e-mail pagi itu.
Begitu juga malam selanjutnya dari malam sampai pagi laptop tidak dimatikan dan koneksi tidak putus sama sekali.
Dalam perjalanan ke Pontianak, cewe SMA di kursi sebelah saya cerita kalau internet di Pontianak "kuno-kuno" dan lambat. Dia bandingkan dengan Jakarta memang bedalah... kuno itu maksudnya komputer di warnet-warnet spec-nya lama dibanding yang dia temui di Jakarta.
Saya menemukan warnet Candika yang menggunakan 10 unit (atau lebih) laptop untuk para pengunjungnya. Ya laptop. Bukan desktop PC pakai LCD monitor.
Makan siang sempat presentasi sebentar pakai laptop saya yang akses internet seperti biasa. Sempat aktif, sempat browse ke beberapa situs. Lalu putus... dan tidak berhasil sambung lagi. Ya sudah kita konsentrasi makan siang.
Sampai hotel sebelum mandi, saya coba akses internet lagi, sempat sambung, sempat buka halaman pertama webmail, lalu putus...
Malamnya ke cafe Oh La La yang dimana-mana selalu ada internetnya. Kalau di Jakarta dengan CBN HotSpot, di Pontianak sih tidak ada CBN ya sambungnya pakai provider lain. Saya tidak bawa laptop. Ternyata di cafe itu bertebaran di hampir semua meja yang ada pengunjungnya. Laptop. Berbagai merk. Pengaksenya mulai dari ABG-ABG putri sampai bapak-bapak yang akses serius dan sekompok remaja yang akses internet juga pakai laptop. Wah di Pontianak tampaknya memang benar pengakses internet lebih maju dibanding Samarinda.
Malamnya saya gagal lagi akses internet di laptop saya.
Subuh menjelang cek out sempat 1 jam lebih sambung internet dan berhasil membuka semua webmail saya, tapi tidak berani coba buka situs banyak gambar. Maklum di Pontianak lambattttt sekali aksesnya.
Transit di Cengkareng berhasil akses dengan kenceng lagi.
Dan akhirnya malam ini akses broadband lagi...
Kapan ya Samarinda seperti Pontianak yang lebih banyak pengakses internetnya.
Kapan ya Pontianak pakai FO akses internetnya sehingga tidak kalah cepat aksesnya dibanding Samarinda.
Kalau Pontianak lebih kenceng akses internetnya dibanding Samarinda, barangkali pengguna internetnya juga akan berlipat ganda lagi dibanding Samarinda.
Saturday, April 21, 2007
Crown's: Dancing Queen Contest session 3
Mestinya sudah di upload dari kemarin-kemarin tapi terhalang beberapa kegiatan setelahnya, termasuk pameran foto di SCP. Jadi sekarang upload adegan2 pada 30-31 Maret 2007 di Crown.
Sesi 3 ini paling banyak yang gak pas narinya. Temanya: Sexy Latin.